Selasa, 22 April 2014

Psikologi: Perkembangan Emosi



BAB 1
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Manusia diciptakan dengan berbagai potensi bakat, minat, kreativitas yang unik serta dinamis. Tentu dengan  semua itu harus ada usaha atau kewajiban untuk mengembangkan baik itu dari kecerdasan majemuk, kecerdasan spiritual, maupun kecerdasan emosional. Agar emosi yang dimiliki menjadi manfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain maka emosi tersebut harus dikembangkan dengan cara yang positif. Dewasa ini dapat kita lihat kebanyakan dari kita cenderung menganggap emosi itu hanyalah suatu sikap kemarahan yang tidak memiliki manfaat. Padahal yang di kategorikan emosi bukanlah hanya marah saja, bahagia atau tertawa, sedih atau menangis juga disebut emosi. Sejak dilahirkan kedunia manusia sudah mengalami perkembangan emosi, contohnya saat bayi lahir maka hal pertama yang dilakukannya ialah menangis. Menangis juga salah satu bentuk emosi. Maka dari manusia mengalami perkembangan emosi sejak dilahirkan hingga saat meninggal. Dalam perkembangan itu tentunya banyak mengalami hambatan atau rintangan yang dihadapi yang dapat menghambat  serta mempengaruhi proses tersebut.  Maka dalam makalah ini penulis akan membahas perkembangan emosi secara lebih detail yang disertai dengan faktor-faktor penyebab timbulnya emosi tersebut.










BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Emosi
      Perbuatan atau tingkah laku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak  senang yang terlalui menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samara-samar). Dalam hal warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi. Disamping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, dan benci.
      Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas, emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Contohnya marah yang ditunjukan dalam bentuk diam.  Jadi, emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang nampak. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Dalam emosi pribadi seseorang telah demikian dipengaruhi hingga individu pada umumnya kurang dapat atau tidak dapat menguasai diri lagi. tingkah laku perbuatannya tidak lagi memperlihatkan sesuatu norma yang ada dalam hidup bersama, teruji telah memperlihatkan adanya gangguan atau hambatan dalam diri individu. Seseorang yang mengalami emosi sering tidak lagi memerhatikan keadaan sekitarnya sesuatu keaktifan tidak dikerjakan oleh individu pada keadaan normal, kemungkinan akan dikerjakan pada saat individu dalam keadaan emosi. Dengan demikian maka emosi dipandang sebagai perasaan yang grundal lebih besar kekuatannya.[1]

B.    Karakteristik Perkembangan Emosi
.       Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak berada dibawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai atau tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu kewaktu sebagi kosekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola prilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam dan derejat rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khususnyapola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalam kehidupan adalah penting. Untuk selanjutnya berikut ini dibahas beberapa kondisi emosional seperti cinta, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kesemasan.
a.     Cinta/kasih sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kepastiannya untuk mencintai seseorang dan kebutuhannya untuk mendapatkan cintadari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih saying dirumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah maka sikap menentang mereka, menyalahkan  mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali mengolok-olok mereka karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tidakan yang kurang bijaksana.
Tampaknya tidak ada manusia, termasuk remaja, yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapakan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuahan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang memberontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar memungkinkannya disebabkan oleh kurangnya  rasanya cinta dan dicintai yang tidak disadari.

b.   Gembira
Pada umumnya individu dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang dialami selam remaja, jika menghitung hal-hal yang menyenangkan tersebut kita agaknya mempunyai cerita yang panjang dan lengkap tentang apa yang terjadi dalam perkembangan emosional remaja.
Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa bahagia akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.

c.    Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting di antara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadiannya. Pertama, di antra emosi-emosi ini adalah cinta, dimana kita ketahui bahwa dicintai dan mencintai adalah gejala emosi bagi perkembangan pribadi yang sehat. Rasa marah juga penting dalam kehidupan, karena melalui rasa marahnya seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan pemilikan minat-minatnya sendiri. Mendekati saat mencapai remaja, dia telah melalui banyak fase dalam perkembangan emosional, antara lain dalam kaitannya dengan perbuatan marah dan cara mengatakan kemarahan itu. Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perubahan sehubungan dengan pertambahan umurnya dan kondisi-kondisi tertentu yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan  kendali emosional. Banyaknya hambatan yang menyebabkan anak kehilangan kendali terhadap rasa marah, sedikit berpengaruh pada kehidupan emosioal remaja. Tetapa rasa marah tersebut akan berlanjut pemunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencananya, dan tindakan-tindakannya dirintangi.
Dalam memahami remaja, ada 4 faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
1. Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadikan dirinya sendiri. Meskipun marah seringkali tampak tolol dan tidak terkendali, namun rasa marah akan terus berlanjut sepanjang ada kehidupan, dan sangat berfungsi sebagai usaha individu untuk menjadi seorang individu sesuai dengan haknya. Selam masa remaja, fungsi marah terutama untuk melindungi haknya untuk menjadi bebas/independent, dan menjamin hubungan antara dirinya dan pihal lain yang berkuasa.
2. Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mncapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap  dimana ada sisa sikap kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarahan masa lalu. Sikap-sikap permusuhan mungkin berbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau kecenderungan untuk merasa tersiksa. Sikap-sikap permusuhan dapat juga tampak dalam suatu kecenderungan untuk menjadi curiga dan keengganan atau menganggap bahwa  orang lain tidak bersahabat dan mempunyai motif yang jelek. Sikap-sikap permusuhan mungkin tampak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura; remaja bukannya menampakan kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukan keinginan yang sangat besar.
3. Seringkali perasaan marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samara-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
4. Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.[2]

d.    Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang anak mencapai masa  remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
       Semua remaja sedikit banyak takut terhadap waktu. Beberapa di antara mereka merasa takut hanya pada kejadian-kejadian bila mereka dalam bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulang-ulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-sehari. Beberapa orang  dapat mengalami rasa takut sampai berhari-berhari atau bahkan sampai berminggu-minggu.

C.   Teori-teori emosi
       Bagaimana hubungan antara emosi dengan gejala gejala kejasmanian, yaitu apakah emosi yang menimbulkan gejala-gejala kejasmanian atau sebaliknya gejala-gejala kejasmanian yang menimbulkan emosi. Mengenai hal ini adanya pendapat yang satu berbeda dengan yang lain, justru pendapat yang ada bertentangan dengan pendapat yang lain. Pendapat ini sering dikenal dengan teori-teori emosi.
Ada dua pendapat tentang terjadinya emosi, pendapat yang nativistik mengatakan, bahwa emosi pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan pendapat yang empristik mengatakan, bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar. Salah satu penganut paham navistik adalah rena Descartes (1596-1650). Ia mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah memiliki 6 emosi dasar, yaitu:
1.      Cinta
2.      Kegembiraan
3.      Keinginan
4.      Benci
5.      Sedih, dan
6.      Kagum
Di pihak kaum empiristik dapat kita catat nama William james (1842-1910) (amerika serikat) dan carl lange (Denmark). Menurut pandapat dan teori ini emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan–rangsangan yang datang dari luar. Gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi oleh individu merupakan gejala kejasmanian. Menurut teori ini orang tidak menangis karena susah, tretapi sebaliknya ia susah karena menangis. Atau bila seseorang melihat harimau, maka reaksinya adalah peredaran darah semakin cepat karena denyut jantung makin cepat, paru- paru lebih cepat memompa udara, dan sebagainya. Respon –respon tubuh  ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa takut. Jadi, orang itu berdebar-debar bukan karena takut setelah melihat harimau, melainkan karena berdebar- debar, maka timbul rasa takut.
Mengapa rasa ini timbul ? hal ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar, orang yang bersangkutan dari pengalaman-pengalamannya telah mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya maka jantungnya berdebar- debar karena, karena itu debaran jantungnya dipersepsikan sebagai takut.
Teori dari james lense ini lebih menitikberatkan hal-hal yang bersifat perifir daripada yang bersifat sentral. Dan teori ini sering pula disebut sebagai paradoks dari james. Sementara itu, banyak para ahli mengadakan eksperimen-eksperimen untuk menguji sampai sejauh mana kebenaran teori james lange ini, ahli- ahli tersebut antara lain sherington dan cannon, yang umumnya menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh james tidak tepat.
Kemudian teori emosi lain dikemukakan oleh cannon, dengan teorinya yang dikenal dengan teori sentral. Menurut teori atau pendapat ini segala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam fisiknya.
Teori emosi lain adalah teori kepribadian, menurut pendapat atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas pribadi. Dimana pribadi ini tidak dapat dipisah- pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah.karena itu, maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian teori ini dikemukakan oleh J. linchoten.
Tokoh empiris lain yang mengemukakan teori emosi adalah wilhem hundt ( 1832- 1920), tetapi berbeda dengan W. james menyelidiki mengapa timbulnya emosi, w. wundt menguraikan jenis-jenis emosi. Menurut E. wundt ada tiga pasng kutub emosi, yaitu:
1.      Lust-unlust  (senang- tak senang )
2.      Spanning-losung (tegang-tegang)
3.      Eeregung-berubigung ( semangat-tenang)
D.   perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi
Terutama pada emosi yang kuat, seringkali terjadi perubahan-perubahan pada tubuh kita, antara lain :
a.       Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
b.      Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
c.       Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut
d.      Pernafasan: bernafas panjang bila kecewa
e.       Pupil mata: membesar bila marah
f.       Liur: mengering kalau takut atau tegang
g.      Bulu roma: berdiri kalau takut
h.      Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang
i.        Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar
j.        Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.

E.   Menggolongkan emosi
       Membedakan satu emosi lainnya dan menggolongkan emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis kedalam suatu golongan atau satu tipe sangat sukar dilakukan karena hal- hal berikut ini :
1)        Emosi yang sangat mendalam, misalnya sangat marah atau sangat takut menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif. Dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang itu sedang takut atau sedang marah.
2)        Penghayatan, satu orang yang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya, kalau marah seseorang akan gemetar ditempat, tetapi lain  kali ia memaki-maki, atau mungkin lari.
3)        Nama emosi, nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan oleh sifat rangsangannya, bukanb pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya yang menjengkelkan.
4)        Pengenalan emosi. Pengenalan emosi secara subjektif dan intropekstif sukar dilakukan, karena selalu saja ada pengarh dari lingkungan.[3]

F.    Pertumbuhan emosi
       Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar seorang bayi yang baru lahir dapat menangis, tetapi ia harus mencapai ringkas kematangan tertentu untuk dapat tertawa, setelah anak itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud- maksud tertentu atau untuk situasi tertentu.j
       Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang tampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis meronta. Pada keadaan tenang, bayi itu tidak menunjukkan perbuatan apapun, jadi dapat disimpulkan emosinya sedang dalam keadaan normal (netral).
       Tiga bulan kemudian baru tampak perbedaan. Pada saat ini terdapat dua eksminitas,yaitu rasa tertekan atau terganggu dan rasa senang atau rasa gembira. Senang atau gembira, merupakan perkembangan emosi lebih lanjut yang tidak terdapat  pada waktu lahir.
       Pada usia lima bulan, marah dan benci mulai dipisahkan dari rasa tertekan atau terganggu. Usia tujuh bulan mulai tampak perasaan takut. Antara usia 10-12 bulan perasaan bersemangat dan kasih sayang mulai terpisahkan dari rasa senang. Makin besar anak itu, makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosinya semakin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi pada usia satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh prose belajar.[4]
       Pengaruh kebudayaan besar sekali terhaadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensional dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga expresi t6ersebut dapart dimengerti oleh orang-orang lain dalam kebudayaan yang sama. Klineberg pada trahun 1933 menyelediki literatur-literatur cina dan mendapatkan berbagai bentuk expresi emosi yang berbeda dengan cara-cara yang ada di dunia barat. Expresi-expresi itu antara lain
·         Menjulurkan lidah kalau keheranan
·         Bertepuk tangan kalau khawatir
·         Menggaruk kuping dan pipi kalau bahagia
       Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah objek-objek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Seorang anak yang tidak pernah ditakut-takuti ditempat gelap, tindakan takut kepada tempat yang gelap. Pria amerika jarang menangis pada peristiwa-peristiwa seperti perkawinan, gagal ujian, dan sebagainya. Tetapi pria perancis lebih mudah untuk mencucurkan air mata dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
       Warna efektif pada seseorang memengaruhi pula pandangan orang tersebut terhadap objek atau situasi disekelilingnya. Ia dapat suka atau tidak menyukai suatu. Misalnya, bentuk yang paling ringan. Dari pada pengaruh emosi terhadap pandangan seseorang mengenai situasi objek dilingkungannya. Sikap yang bias positif, yaitu setuju, suka, senang terhadap sesuatu (misalnya sikap seseorang mahasiswa terhadap mata pelajaran yang disukainya), atau bias juga negative, yaitu tidak setuju, anti, muak, benci, terhadap sesuatu ( misalnya, sikap orang amerika berkulit putih terhadap orang amerika berkulit hitam).
       Sikap pada seseorang, setelah beberapa waktu, dapat menetap dan sikap untuk di ubah lagi, dan manjadi prasangka. Prasangka ini sangat besar pengaruhnya terhadap tingkah laku, karena ia mewarnai tiap- tiap perbuatan yang berhubungan dengan suatu hal, sebelum hal- hal itu sendiri muncul dihadapan orang- orang yang bersangkutan.
       Sikap yang disertai dengan emosi yang berlebih–lebihan disebut kompleks, misalnya kompleks rendah diri, yaitu sikap negative terhadap diri sendiri yang disertai perasaan malu, takut, tidak berdaya, segan bertemu orang lain dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
       Perbuatan atau tingkah laku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak  senang yang terlalui menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samara-samar). Dalam hal warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi.
Ada dua pendapat tentang terjadinya emosi, pendapat yang nativistik mengatakan, bahwa emosi pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan pendapat yang empristik mengatakan, bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar. Salah satu penganut paham navistik adalah rena Descartes (1596-1650). Ia mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah memiliki 6 emosi dasar, yaitu:
1.      cinta
2.      kegembiraan
3.      Benci
4.      Sedih, dan
5.      Kagum
6.      keinginan
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak berada dibawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.

DAFTAR  PUSTAKA
Abdul Rahman,S., 2008, psikologi suatu pengantar dalam perspektif islam, Jakarta: kencana.
Rakhmat,J., 2000, psikologi komunikasi, bandung : PT. Remaja Rosda Karya, edisi revisi, cet XV
Prof.dr.h.djaali, 2009, psikologi pendidikan, Jakarta:bumi aksara
http://febryandhikar.blogspot.com/2012/03/3-unsur-tentang-cinta.html


[1] Abdul Rahman, psikologi suatu pengantar dalam perspektif islam,(Jakarta: kencana, 2008), hal 32.
[2] Ibid.,hal 34
[3] Rakhmat, psikologi komunikasi, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2000), hal 78.
[4] Djaali, psikologi pendidikan, (Jakarta:  bumi aksara, 2009),  hal. 38

Senin, 10 Maret 2014

Makalah Metodologi Studi Islam : Urgensi Studi Islam



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur senantisa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat, hidayah, kasih sayang, dan barokahnya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ URGENSI STUDI ISLAM “ . salawat serta salam tidak lupa penulis hanturkan kepada sanjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa refolusioner sejati, beserta keluarga, para sahabat, dan umatnya sampai hari kiamat, amin. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah METODOLOGI STUDI ISLAM di STAIN LHOKSEUMAWE. Dan tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada bapak “ Drs.Hafifuddin, M.Ag” selaku dosen pengajar mata kuliah METODOLOGI STUDI ISLAM yang telah membimbing penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisa ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.semoga tulisan in bermanfaat, amin.

Lhokseumawe,21 Oktober 2011
                                                                                    Penulis





BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Fenomena pemahaman keislaman umat islam masih ditandai keadaan yang amat variatif. [1]Timbulnya kevariatifan dapat dilacak penyebabnya, mengapa umat tersebut keliru memahami islam. Ajaran islam yang muatan ajarannya banyak berkaitan dengan masalah- masalah sosial ternyata belum dapat diangkat ke permukaan disebabkan metode dan pendekatan yang kurang komprehensif.
Islam mempunyai banyak dimensi yaitu mulai dari keimanan, akal, ekonomi, politik, iptek, lingkungan, perdamaian, sampai kehidupan rumah tangga. Dalam memahami berbagai ajaran islam tersebut memerlukan berbagai pendekatan yang dikaji dari berbagai ilmu. Misalnya dijumpai ayat- ayat tentang proses pertumbuhan dan berbagai anatomi tubuh manusia. Untuk menjelaskan masalah tersebut memerlukan dukungan ilmu anatomi tubuh manusia.Untuk membahas ayat- ayat tentang tanaman jelas memerlukan bantuan ilmu pertanian.[2] Seperti itulah hubungan islam dengan pendekatan berbagai ilmu pengetahuan.
Metode digunakan untuk menghasilkan pemahaman islam yang komprehensif dan utuh, guna memendu perjalanan umat islam dalam menghadapi dan menjawab permasalahan ajaran keislaman yang variatif tersebut.
Menurut bambang sugiarto, tantangan yang dihadapi agama islamsaat ini sekurang- kurangnya ada 3. Pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporer ditandai disorientasi nilai dan degradasi moralitas agama ditantang untuk tampil sebagai suara moral yang autentik.Kedua, agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolah dalam rangka teologi baru.ketiga, agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk  penindasan. Studi islam dengan metode yang tepat diharapkan dapat melahirkan suatu komunitas yang mampu melakukan perbaikan secara intern dan ekstern. Secara intern, komunitas itu diharapkan dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik intra- agama islam.
B.     PERUMUSAN MASALAH
1.      Apa urgensi studi islam ?
2.      Bagaimana keadaan umat islam saat ini ?
3.      Bagaimana keadaan umat manusia dan peradabannya ?
C.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dalam membahas masalah ini adalah untuk mengetahui :
1.      Urgensi studi islam
2.      Bagaimana keadaan umat islam saat ini
3.      Bagaimana keadaan umat manusia dan peradabannya


BAB II
PEMBAHASAN
A.    URGENSI STUDI ISLAM
Pada saat ini umat islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, studi keislaman menjadi sangat urgen. Studi islam dituntut untuk membuka diri terhadap masuknya dan digunakannya pendekatan- pendekatan yang bersifat objektif dan rasional. Dan secara bertahap meninggalkan pendekatan yang bersifat subjektif doktriner.[3]proses pengajaran islam hingga saat ini belum tersusun secara sistematis dan belum disampaikan menurut prinsip, pendekatan, dan metode yang direncanakan dengan baik. Namun untuk kepentingan akademis, membuat islam lebih responsive dan fungsional dalam memandu perjalanan umat islam, diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman islam yang utuh dan komprehensif.
Pada abad pertengahan, eropa dalam keadaan stagnasi dan masa bodoh dalam waktu seribu tahun.Tetapi stagnasi dan masa bodoh tersebut kemudian menjadi kebangkitan refolusioner yang multifaset dalam bidang sains, seni, dan kehidupan sosial.Revolusi yang mendadak dalam pemikiran manusia ini menghasilkan peradaban kebudayaan. Sekarang apa yang terjadi pada dirinya yang menyebabkan perubahan mendadak sehingga dalam waktu 300 tahun eropa menemukan kebenaran yang mereka peroleh dalam waktu seribu tahun yang lalu?
Seorang sarjana iran, ali syariati mengatakan bahwa factor utama yang menyebabkan kemandekan dan stagnasi dalam pemikiran peradaban kebudayaan di eropa tersebut adalah metode pemikiran analogi aristoteles. Pada saat melihat metode yang tepat masalah berubah, maka sains, masyarakat, dan juga dunia berubah.Inilah pentingnya metode sebagai fektor fundamental dalam renaisans.
Begitu pentingnya peranan metode pemahan ajaran islam dalam kemajuan dan kemunduran pertumbuhan ilmu. Mukti ali mengatakan bahwa yang menentukan dan membawa stagnasi adalah metode yang digunakan. Sebagai contoh abab ke 14- 16 M aristoteles lebih jenius bila dibanding francis bacon. Namun mengapa justru bacon menjadi orang yang menyebabkan kemajuan dalam sains sekalipun dia lebih rendah tingkat kejeniusannya disbanding aristoteles? Hal ini dijawab oleh mukti ali karena orang yang biasa- biasa saja seperti bacon dapat menemuka metode berpikir yang benar dan utuh.
Hal demikian, bukan bermaksud untuk merendahkan orang- orang jenius.Kejeniusan saja tidak cukup, namun harus dilengkapi dengan ketepatan memilih metode yang digunakan untuk kerjanya dalam bidang pengetahuan.Pada dasarnya metode digunakan untuk mencapai tujuan dalam mencari kebenaran ilmu dan menggali kebenaran pengetahuan.Kewajiban pertama bagi peneliti adalah memilih metode yang paling tepat untuk riset dan penelitiannya.Riset dan penelitian tidak dapat dipisahkan dengan metode agar tercapai suatu kelogisan secara ilmiah.
Kemampuan dalam menguasai materi keilmuan perlu diimbangi dengan kemampuan di bidang metode sehingga pengetahuan yang dimilki dapat dikembangkan secara maksimal.[4]
B.     UMAT ISLAM SAAT INI BERADA DALAM KONDISI PROBLEMATIS
Saat ini umat islam masih berada dalam posisi pinggiran ( marginal ) dan lemah dalam segala bidang kehidupan sosial budaya. Dalam kondisi ini, umat islam harus bisa melakukan gerakan pemikiran yang cemerlang dan operasional untuk mengantisipasi perkembangan dan kemajuan tersebut. Umat islam jangan sampai terjebak dalam romantisme, dalam arti menyibukkan diri untuk membesar- besarkan masa lalu sebagaimana terwujud dalam sejarah islam, sementara umat islam saat ini masih silau dalam menghadapi masa depannya. Pemikiran itu tidaklah salah, tetapi suatu kemunduran karena penyimpangannya akal dari fungsi sebenarnya. Dan akan lebih baik kalau dibarengi dengan berbagai usaha yang serius dan penuh keyakinan untuk dapat mewujudkannya dalam realitas kehidupan yang serba maju dan canggih ini.
Dalam posisi problematis itu, jika mereka hanya berpegang pada ajaran- ajaran islam hasil penafsiran ulama terdahulu yang merupakan warisan doktriner turun- temurun dan dianggapnya sebagai ajaran yang sudah mapan, sempurna, dan sudah paten, serta tidak ada keberanian untuk melakukan pemikiran ulang, maka berarti mereka mengalami kemandekan intelektual yang pada gilirannya akan menghadapi masa depan yang suram. Di sisi lain, jika mereka melakukan usaha pembaharuan dalam pemikiran kembali secara kritis dan rasional terhadap ajaran-ajaran islam guna menyesuaikan terhadap tuntutan perkembangan zaman dan kehidupan modern, maka akan dituduh sebagai umat yang meninggalkan atau tidak setia lagi terhadap ajaran islam yang dianggapnya sudah mapan dan sempurna tersebut.
Melalui pendekatan yang bersifat rasional – objektif, studi islam diharapkan mampu memberikan alternatif pemecahan masalah atau jalan keluar dari kondisi yang problematis tersebut.  Studi islam diharapkan dapat mengarah kepada dan bertujan untuk mengadakan usaha- usaha pembaharuan dan pemikiran kembali ajaran- ajaran agam islam- yang merupakan warisan doktriner turun-temueun dan dianggapnya sudah mapan dan sudah mandek dan sudah ketinggalan zaman- tersebut, agar mampu beradaptasi dan menjawab tantangan serta tuntutan zaman dan dunia modern, dengan tetap berpegang pada sumber ajaran agama islam yang asli, yaitu alquran dan as- sunnah. Studi islam tersebut juga diharap kan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagi umat islam, agar tetap menjadi seorang muslim sejati, yanghidup dalam dan mampu menjawab tantangan serta tuntutan zaman modern maupun era globalisasi sekarang ini.[5]

C.     UMAT MANUSIA DAN PERADABANNYA BERADA DALAM SUASANA PROBLEMATIS
Pesatnya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membuka era baru dalam perkembangan budaya dan perdan umat manusia, yang dikenal dengan era globalisasi.Pada era ini ditandai dengan semakin dekatnya jarak hubungan komunikasi antar bangsa dan budaya umat manusia.Dunia tampak sebagai suatu kesatuan sistem yang saling memiliki ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya.Tidak ada satu bangsa dan Negara pun yang bisa berdiri sendiri secara terpisah dari bangsa dan Negara lainnya. Bangsa dan Negara yang sudah maju memerlukan bangsa dan Negara yang sedang berkembang, demikian pula sebaliknya eksistensi bangsa dan Negara yang sedang berkembang bergantung pada bangsa dan Negara yang sudah maju, sekalipun ketergantungannya itu memilki motivasi dan kualitas yang berbeda.
Pada suasana semacam ini tentunya umat manusia membutuhkan adanya aturan- aturan, nilai- nilai, dan norma- norma serta pedoman dan pegangan hidup yang universal dan diakui atau diterima oleh semua bangsa. Hal ini diperlukan demi terciptanya kehidupan yang aman dan damai diantara mereka guna mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup dalam kehidupan umat manusia di dunia.
Masalahnya adalah : “ dari mana sumber aturan, nilai dan norma serta pedoman hidup yang universal tersebut diperoleh?” umat manusia dalam sejarah perdaban dan kebudayaanya memang telah berhasil menemukan aturan nilai dan norma sebagai pedoman dan pegangan hidup, yang berupa agam, filsafat, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.namun demikian ternyata agama telah ditinggalkan oleh perkembangan filsafat,ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsafat dan ilmu pengetahuan yang selam ini diandalkan ternyata juga tidak mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup, apalagi aturan- aturan yang universal.Dengan demikian agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan dipandang tidak mampu memberikan bimbingan, apalagi mengontrol terhadap perkembangan budaya dan peradaban manusia pada masa modern dan era globalisasi saat ini.
Jika ilmu pengetahuan dan teknologi modern dibiarkan berkembang terus secara bebas tanpa control dan pengarahan , maka akan menyebabkan kehancuran dan malapetaka yang mengancam kelangsungan hidupnya dan peradaban manusia itu sendiri. Harold, H. Titus dan beberapa filosof dewasa ini dalam menjelaskan situasi problematis tersebut menyatakan bahwa “filsafat sekarang telah mencapai kekuatan besar tetapi tanpa kebijaksanaan,” kita hidup dalam suatu periode yang mirip dengan tahap- tahap terakhir dari kebudayaan greeko- romawi, reinassance, reformasi, dan revolusi industry diman terjadi perubahan besar dalam cara manusia berfikir, dalam nilai dan praktik, atau terjadi perubahan- perubahan yang menyentuh kehidupan manusia dan masyarakat. Manusia telah menciptakan kekuatan yang besar dalam bidang sains dari teknologi, tetapi kekuatan- kekuatan sering digunakan untuk maksud- maksud merusak ( destruktif). Manusia telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuan, tetapi belum bisa mendekapi cita- cita perorangan, realisasi diri, dan aktualisasi diri.
Islam sebagai agama yang rahmah li al-‘alamin, tentunya mempunyai konsep- konsep atau ajaran- ajaran yang bersifat alami dan universal, yang dapat menyelamatkan manusia dan alam semesta darikehancurannya.karena itu islam harus bisa menawarkan nilai- nilai, norma- norma, dan aturan aturan hidup yang bersifat manusiawi dan universal itu kepada dunia modern, dan diharapkan dapat memberikan alternatif –alternatif pemecahan terhadap keadaan problematis. Kondisi ini  juga berada dalam situasi yang serba problematis. Kondisi kehidupan sosial dan peradaban umat islam sendiri saat ini juga berada dalam keadaan yang lemah dan tak berdaya.
Disinilah letak urgensi studi islam, untuk menggali kembali ajaran-ajaran islam yang asli dan murni, dan yang bersifat manusiawi dan universal. Dari situ kemudian di transformasikan kepada generasi penerusnya.[6]

D.    MANFAAT  STUDI ISLAM
Setiap orang tentu mempunyai corak pandang yang berbeda mengenai suatu hal,begitu pun mengenai agama.Ada orang yang membagun pengertian tentang agama hanya dari apa yang nampak mata atau nampak secara empirik (das sein).Sebagai contoh sebagian pemikir non muslimn yang menilai islam denmgan mengambil sempel sekelompok orang yang awam tentang islam.Sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa islam adalah agama yang kolot,tidak modern,tidak gaul,dan sebagainya.Pada hal mereka tidak mengetahui apa dan bagaimana islam secara substansi (das sollen). Mereka lupa bahwa beberapa abad yang lalu islam pernah menjadi pusat dinasti ilmu pengetahuan sebelum bangsa-bangsa lain bangkit dari keterpurukan atau mengalami kebangkitan (renaissance). jika kemudian muncul pertanyaan,mengapa saat ini islam mengalami kemunduran yang drastis tertinggal jauh dari bangsa-bangsa barat, tidak lain tidak bukan adalah karena umat islam bersikap acuh tak acuh terhadap islam, terhadap Al Qur’an dan hadits, dan lebih cenderung condong kepada gemerlapnya diunia westernisas.
Ada sebuah kalimat bijak yang menyatakan ;
Orang islam maju karena pengikut agamanya, sedangkangkan orang-orang non islam maju karena meninggalkan agamanya.
Agama selain sebagai faktor penunjang kemajuan ilmu pengetahuan juga berfungsi sebagai titik puncak tujuan manusia untuk menjawab segala problematika kejiwaannya (kebutuhan rohaniah akan adanya kekuatan X yang menguasainya).
Agar sesuai dengan uraian diatas, agama setidaknya mengandung lima aspek, yaitu :
  1. Asal-usul agama yang berasal dari Tuhan atau dari pemikiran manusia,
  2. Aspek tujuan agama memberikan tuntunan hidup yang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,
  3. Aspek keyakinan terhadap kekuatan gaib, keyakinan terhadap kesejahteraannya yang sangat dipengaruhi oleh hubungan baik dengan kekuatan yang gaib,
  4. Aspek kemasyarakatannya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kenyataan agama sebagai fitrah manusia telah digambarkan oleh ajaran islam dalam kitab suci. Fitrah agama inilah yang mendorong dan menyeruhkan manusia kepada agama sesuai dengan ayat Al Qur’an surat Ar Rum ayat 30, yaitu:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
Untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang baik, manusia memerlukan pendekatan yang komperehensif berkaitan dengan pemahamannya tentang agama. Dalam berbagai fakta dan fenomena umat islam di Indonesia faktor ploralitas, latar belakang sosial/budaya, ekonomi dan pendidikan adalah tantangan yang berat untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan pola keberagaman secara utuh.



DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Muhaimin, MA.,kawasan dan wawasan studi islam, Jakarta: kencana, 2007.
M. yatimin Abdullah, studi islam kontemporer, Jakarta: pustaka sinar, 2009.
Abuddin Nata, Metodelogi studi islam, Jakarta: Raja grafindo persada, 2000.
Abdullah Amin. 2002. Studi agama: normativitas atau histo











[1] Abuddin Nata, Metodelogi studi islam, cet.1,( Jakarta: raja grafindo persada, 2000), hlm. 95.
[2]Ibid, hlm. 5.
[3]Prof. Dr. Muhaimin, MA.,kawasan dan wawasan studi islam, cet.2,( Jakarta:kencana,2007), hlm. 3.
[4] M.yatimin Abdullah, studi islam kontemporer, (Jakarta: pustaka sinar harapan, 2009), hlm. 149.
[5] Prof. Dr.Muhaimin, MA., op. cit., hlm. 4.
[6]Ibid., hlm. 5.